Kamis sore minggu lalu saat berkendara menuju kantor di bilangan kawasan Senayan, sehat dengan inti intinya reiki menyempatkan diri mampir ke Warung Angkringan di Jalan Kebayoran Lama, tepatnya sebelah selatan perempatan Jalan Panjang dengan Jalan Kebayoran Lama. Untuk apa di sore menjelang magrib blusukan ke tempat ini? Ya….untuk menikmati sensasi warung angkringan yang terbilang langka ada di Ibukota Jakarta ini.

Boleh jadi warung angkringan yang terlihat langka di Jakarta ini ada benarnya. Lalu dagangan apa yang dijual di warung angkringan ini? ” Sego kucing beserta lauk pauk ikan teri, bandeng dengan secuil sambal terasi ada di dalam bungkusan kecil itu,” kata Mas Sutrimo pemilik warung angkringan sambil mempersilahkan sehat dengan inti intinya reiki duduk di bangku panjang di bawah temaramnya lampu 25 watt yang mulai menerangi dagangan di bawah atap terpal sebagai pelindung dari air hujan yang masih saja turun  sore itu.

Sambil mencicipi sego kucing khas jogja atau solo dengan bakwan goreng, kami berbincang soal warung angkringan yang mulai marak ada di Jakarta. ” Nanti malam kalau Mbak pulang kerja, coba saja mampir ke warung angkringan lain yang juga berjualan di depan Kantor Indopos masih di Jalan Kebayoran Lama ini. Warung milik sahabat saya itu tutup sekitar jam 2 dinihari, ” kata Mas Trimo menjelaskan. Menu yang disajikan di warung angkringan milik teman saya juga sama dengan menu yang ada di sini.

Ada kopi panas, wedang jahe, air jeruk panas atau dingin, susu panas dan teh manis. Sebagai pelengkap makanan khas sego kucing, ada sate telur puyuh, sate usus, bakmi mini, tahu goreng, tahu tempe bacem, kerupuk gendar dan tentu saja jadah yang bisa dipanaskan dalam bara api dari areng bakar. ” Pokoknya sebisa mungkin dagangan yang ada ini saya adopsi persis dengan dagangan yang pernah saya jual di desa saya dulu,” kata Mas Trimo menerangkan asal muasal dagangannya ini.

Menu sate telur puyuh, sego kucing dengan sejumput sambal merah, atau sate usus adalah menu wajib di warung angkringan yang juga ada di Jakarta ini.

Kalau warung angkringan di kota asalnya seperti Klaten,  Solo bahkan Jogja yang dulu disebut dengan nangkring sambil duduk santai dengan kaki diangkat sebelah, saat ini sudah go public keluar dari habitatnya. Salah satunya ada di kawasan Jakarta Barat ini.  Sore itu seorang pengunjung warung Mas Trimo ada yang lagi menyeruput wedang jahe panas. Tampaknya warung angkringan ini perlahan tapi pasti sudah mendapat tempat di kalangan penggemar warung angkringan di Jakarta.

Sejarah adanya warung angkringan di Jogja sudah ada sejak tahun 1950. Saat itu para pembeli hanya terbatas pada buruh angkut dagangan pasar, sais dokar, supir becak dan mbok-mbok bakul jamu. Kini warung angkringan itu terus tumbuh di Jogja. ” Saat ini pelanggannya bukan buruh angkut barang di pasar. Ada pejabat pemda, mahasiswa, eksekutip muda hingga Pegawai Kantor Pemerintahan kota Jogja sangat gemar bersantap di warung angkringan, kata Mas Trimo menjelaskan seputar perkembangan warung angkringan yang ada di Klaten, Jogja dan Solo saat ini.

Berasal dari kata angkring atau nangkring yang dalam bahasa Jawa berarti duduk santai. Konsep warung ini berbentuk gerobak yang atasnya dilapisi dengan terpal atau tenda plastik. Ciri khas lainnya adalah, warung angkringan ini mulai beroperasi mulai siang hingga subuh dini hari. Ketika saya tanyakan kenapa mengadu nasib berjualan di Jakarta kendati pun pelanggannya belum tentu cocok dengan selera warung angkringan ini?

” Saya terpaksa meninggalkan kampung halaman di Desa Cawas Klaten sejak 2 tahun lalu setelah gempa bumi hebat menggoncang Jogja dan sekitarnya, ” kata Mas Trimo. Dia mengingat peristiwa Sabtu pagi itu.  Sekitar pukul empat pagi saya menutup warung angkringan lalu pulang ke rumah. Pukul 5 pagi isteri dan kedua anak saya sudah bangun. Saya sendiri baru bisa tidur sekitar jam setengah enam pagi. Itu pun tidur-tidur ayam.

” Mendadak bumi bergoncang hebat lalu dinding rumah roboh dan atap genting rontok dengan bunyi gemuruh memekakkan telinga,” urai Mas Trimo sambil memperagakan bagaimana dia menyelamatkan diri dengan berlindung di bawah meja ketika lemari rumahnya roboh menimpanya. Gempa bumi hebat di pagi itu juga telah meyelamatkan isteri dan kedua puteranya karena pada saat bumi bergoncang keluarganya ada di halaman siap mengantarkan kedua anaknya pergi ke sekolah.

Sejak Desa Cawas Klaten porak poranda karena gempa Mas Trimo berhenti berjualan warung angkringan ini. Dia sibuk membenahi bangunan rumahnya dan kini sudah selesai pembangunannya. Untuk menghilangkan trauma karena gempa, dia bertekad mengadu nasib ke Jakarta dan meneruskan profesi lamanya sebagai penjual warung angkringan yang sudah 2 tahun ini dijalaninya di Jakarta. Berbekal ketrampilan berjualan warung angkringan sebelumnya, akhirnya pelan tapi pasti warung angkringan Mas Trimo sudah mendapatkan tempat di hati pelanggannya yang rata-rata kaum pendatang dari Jawa.

Ciri khas warung angkringan adalah dagangan digelar di atas gerobak. Daya tariknya adalah sego kucing yang menjadi menu wajib bagi pengunjung.

Seperti sore hari itu salah seorang pelanggan setia warung Mas Trimo adalah supir taxi yang sengaja memesan sego kucing dan wedang jahe panas manis. Sambil bercakap dalam bahasa Jawa, saya perhatikan gerak-gerik Pak Supir ini saat menyantap sego kucing. Sesekali dia mencomot sate telur puyuh dan bakwan goreng membuat Pak Supir taksi itu begitu lahap makannya.

Sambil glegekan dia menyeruput sisa wedang jahe panas yang ada dalam gelas.  Sesaat lalu dia mulai menghisap sebatang rokok. Asap rokok mulai menyelimuti wajah Pak Supir ini. ” Tampaknya sensasi makan di warung angkringan ala Jakarta ini boleh jadi mirip dengan yang ada di Jogja ya? ” tanya saya kepada Mas Trimo. Lalu apa bedanya pelanggan di Jogja dengan di Jakarta ini?

Jelas sekali perbedaannya. ” Pelanggan setia warung angkringan gaya Jakarta ini tidak ada lagi sopir becak yang datang. Maklum sekarang becak sudah tidak boleh beroperasi lagi. Sebagai gantinya adalah tukang ojek banyak yang datang ke sini,” ujar Mas Trimo lirih sambil menghitung jumlah uang yang harus sehat dengan inti intinya reiki bayar untuk secangkir wedang jahe panas manis, bakwan goreng dan sebungkus sego kucing dengan secuil sambal teri bandeng goreng.

” Empat ribu lima ratus rupiah saja Mbak? ” sapa Mas Trimo ramah sambil merapikan piring dan gelas di atas meja. ” Matur nuwun sanget sampun kerso rawuh mriki?, ” katanya.  Dawah sami-sami, jawab saya. Tak lama kemudian lamat-lamat Azan Maghrib untuk Ibukota berkumandang dan sehat dengan intinya inti reiki segera pamit menuju kantor yang berjarak hanya 1 km dari Warung Angkringan Mas Soetrimo ini.