Prolog : Masih banyak saudara kita yang belum tahu apa itu reiki dan apa pula manfaatnya bagi kesehatan. Karena begitu penting untuk diketahui oleh pembaca, maka tidak ada salahnya sehat dengan kundalini reiki terbit ulangkan kembali postingan lama reiki ini agar segera diketahui, daripada mencari ke arsip reiki blog ini. Arsip reiki sudah ratusan jumlahnya dan ada beberapa postingan yang di blog lama pernah terbit, di blog ini sedapat mungkin akan diterbit ulangkan kembali dengan sedikit revisi ( editing ) menyangkut judul postingan dengan tidak mengurangi maknanya.

Sebagai mahkluk sosial manusia selalu berkomunikasi dengan orang lain secara lisan atau tulisan. Komunikasi dua arah ini adalah jamak dalam hidup keseharian. Selain komunikasi dua arah, komunikasi satu aruh pun bisa terjadi. Artinya komunikasi dengan diri sendiri pun setiap orang mampu melakukannya. Apakah komunikasi diri sendiri penting dalam dalam hidup ini? Sehat dengan reiki jawab, bahwa komunikasi ke diri sendiri yang saya istilahkan “self talk” sangat penting dalam kaitannya dengan peranan alam bawah sadar yang begitu peka merespon apa yang menjadi niat kita.

Alam bawah sadar sangat polos. Dia akan menerima apa adanya dari produk yang kita pikir dan rasakan. Jika kita berpikiran positip maka yang akan muncul adalah pikiran dan perasaan positip yang output nya pun kondisi positip. Oleh karena itu berpikiranlah positip dalam setiap tindakan. Kebalikan dari berpikir positip adalah pikiran negative. Misalnya contoh sederhana dan setiap orang tanpa sadar pernah memikirkan yaitu pikiran negative masalah penyakit dalam diri sendiri.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kerja otak manusia selalu repetitip dari detik ke detik. Repetitip atau pengulangan yang sering kita pikirkan jika negative maka hasilnya pun negative. Dengan kata lain untuk melawan rasa sakit yang ada dalam tubuh kita maka kita membiasakan diri untuk mengulangi sesering mungkin kalimat affirmasi misalnya, “Saya hari in sehat…,sehat…,sehat…,saya merasa sehat.” Itulah kalimat positip yang seharusnya kita rancang dan ucapkan dalam tindakan sehari-hari kalau ingin tubuh ini sehat.

Sebaliknya pada saat tubuh kita kurang sehat sebaiknya jangan membicarakan apalagi merasakan masalah sakit. Cuek saja dan alihkan perhatian ke masalah lainnya di luar masalah sakit. Memang tindakan ini kelihatannya kejam apalagi membicarakan sakit diri sendiri saja dilarang.

Tindakan ini berlawanan dengan sikap banyak orang yang justru membicarakan penyakit beserta segala keluhannya di saat tubuh mereka kurang sehat. Kita ambil contoh lagi dalam kasus pikiran negatif yang sudah terbiasa kita lakukan, misalnya penggunaan kata-kata “jangan” terhadap kelakuan anak kita. Misalnya kita berkata kepada anak kita, “Jangan naik pohon nanti jatuh. Jangan nonton televisi dekat-dekat nanti matamu sakit. Jangan main air hujan nanti masuk angin.”

Semakin sering kita menggunakan kata jangan dengan sendirinya akan menambah memori negative “kata jangan” ke dalam pikiran alam bawah sadar kita. Akibatnya dalam tindakan nyata kata jangan bukan mustahil akan terbukti dengan jatuhnya anak kita dari pohon, kena masuk angin dan mata sakit karena nonton televisi dari dekat. Pengalaman ini sudah sering terbukti dalam kondisi keseharian kita.

Langkah bijaksana dan sedikit menasehati terhadap anak kita yang bandel misalnya mengucapkan, “Hati-hati ya turun dari pohon, hari hujan sebaiknya berteduh, pancaran cahaya pesawat televisi sangat menyilaukan mata sebaiknya nonton televisi di sebelah sini saja”. Kembali ke affirmasi “kata sehat” bila orang ingin tahu kuncinya adalah melakukan self healing tetapi dengan cara self talk. Sesuatu yang pas atau cocok dalam self healing ini belum tentu cocok dengan orang lain. Mengingat setiap orang unik dan bersifat pribadi.

Demikian halnya dengan cara berkomunikasi dengan diri sendiri. Bentuk self talk memang tidak selalu ucapan verbal yang bisa kita dengar. Ia merupakan bentuk komunikasi baik ucapan diri sendiri dengan mulut maupun ide dan beragam pikiran yang melintas ke ruang lingkup pusat kesadaran kita adanya dalam pusat alam bawah sadar.

Deepak Chopra seorang ahli pengobatan tradisional India menyatakan bahwa setiap hari seorang manusia dapat berbicara kepada diri sendiri sebanyak 55.000-60.000 kali. Sayang sebagian kalimat yang diucapkan sebanyak 77% bersifat negative dan cenderung melemahkan diri sendiri kita. Misalnya mengeluhkan rasa sakit yang tengah kita derita. Demikian pula saat dalam hati kita berbicara kepada orang lain, tanpa disadari kita sedang melakukan unconscious dialog pada orang tersebut. Pikiran kita langsung mengirimkan sinyal kepada orang yang tengah kita pikirkan. Ibaratnya pikiran ini bekerja seperti ponsel yang tengah mengirimkan sinyal di gelombang tertentu.

Bagaimana halnya bila kita mendengarkan keluhan dari sahabat sehat bersama reiki tentang penyakitnya? Saat Anda mendengarkan keluhan penyakit ini dan mulai berpikir, artinya Anda memberikan pikiran, fokus dan energi pada penyakit mereka. Jangan kaget bila akibatnya sahabat ini tak kunjung baik penyakitnya malahan kita sendiri juga mulai kurang nyaman. Sebaiknya bila kebetulan bertemu dengan sahabat kita yang tengah sakit dan mengeluhkan penyakitnya, Anda dapat membantu dalam hati kalimat affirmasi positip,”Kamu luar biasa hari ini, kamu sehat…kamu sehat…kamu sehat…”

John Demartini mengatakan bahwa rasa cinta serta rasa syukur akan melarutkan semua perasaan negative dalam hidup ini terlepas dari apa pun bentuk yang telah menjadi perwujudannya. Demikian pula terhadap penyakit, cinta dan syukur perlahan memupuskannya. Begitu Anda mulai berpikir maka perasaan Andalah yang dapat merasakannya. Jadi mari kita terus menerus berpikiran positip dalam setiap tindakan kita. Apabila terlanjur berpikiran negative “jangan-jangan-jangan” misalnya…segera hapus affirmasi negative ini dan gantilah dengan affirmasi positip.