Lengkingan tiupan peluit yang datang dari geladak kapal pernah menjadi hal yang sangat lazim didengar di kapal-kapal angkatan laut di seluruh dunia. Peluit yang dibunyikan adalah benda kecil yang memiliki pegangan seperti pipa, yang didesain untuk mengeluarkan bunyi yang melengking.

Meniup peluit merupakan salah satu kewajiban bo’sun atau kelasi kapal dan dulu menjadi satu-satunya cara mengirim instruksi kepada kru kapal. Bo’sun adalah petugas bintara yang bertanggungjawab dalam masalah tali temali, membuang sauh, perkabelan dan penanganan kru yang ada di dek kapal.

These Brass Ships or Bosun's whistle are a traditional reproduction of the whistles used on board ships especially Naval ships.

Para kru kapal sudah dilatih untuk segera merespons bunyi melengking yang datang dari bo’sun, yang berarti panggilan, khususnya saat badai datang atau dalam peperangan. Adapun untuk perintah rutin ada nada peluit tersendiri. Panggilan bo’sun masih menurut Situs GeoWeek, pada awalnya digunakan oleh kapal-kapal Romawai dan Yunani.

Kapal-kapal itu melaju lewat gerakan dayung-dayung besar yang menggunakan tenaga para budak. Irama dayung ditentukan oleh tiupan peluit. Peluit pertama kali digunakan oleh kapal Inggris pada abad ke-13. Adapun penetapan lengkingan peluit, sebagai panggilan terjadi pada akhir tahun 1600-an ketika seorang laksamana dari Angkatan Laut Inggris mengenakan peluit emas sebagai lencana.

Sumber : GeoWeek.