Bulan puasa kali ini udara kota Solo masih cukup cerah. Matahari begitu terik menyinari kota budaya yang masih sarat dengan peninggalan budaya yang perlu dilestarikan. Namun sesekali udara cerah itu juga sering diselimuti mendung kendatipun tidak sampai menurunkan air hujan. Jika hujan telah datang boleh jadi udara bersih akan sedikit membuat tumbuh-tumbuhan menjadi segar.

Hujan yang diharapkan turun boleh jadi tertunda hingga lebaran minggu mendatang, akan tetapi hujan kesedihan boleh jadi sedang menimpa sebuah bangunan bersejarah yang kini sedang dirobohkan. Bangunan bersejarah Pabrik Es Saripetojo Solo menurut Kompas edisi 21/8/11 mewartakan, saat ini bangunan pabrik sedang dirobohkan oleh alat-alat berat yang boleh jadi akan menyisakan puing-puing bangunan. Sangat disayangkan jika bangunan bersejarah akhirnya hilang dan tinggal kenangan bagi warga kota Solo yang sudah tidak memiliki bangunan pabrik Es Saripetojo lagi.

Pabrik Es Saripetojo I yang terletak di Jalan Slamet Riyadi berseberangan dengan bangunan Stasiun Kereta Api Purwosari memang mempunyai sejarah akan keberadaan sebuah pabrik es di kota Solo. Bangunan pabrik yang berdiri pada 1888 dengan nama Soloche Ist Wastahoppy dan pernah direnovasi pada tahun 1953 karena terbakar, saat ini tinggal menyisakan kenangan saja. Sejumlah alat berat saat ini tengah merobohkannya dan konon di bekas pabrik Es Saripetojo ini kelak akan didirikan sebuah mall.

Bangunan bekas pabrik Es Saripetojo di Purwosari Solo. Foto : SoloPos/Agoes Rudianto

Lahan pabrik es seluas 12.500 meter persegi di masa jayanya pada tahun 1985 – 1990 dalam sehari produksi mampu menjual 90 ton es berbentuk balok. Masing-masing balok es memiliki berat setengah kwintal alias 50 kilogram. Produksi es sempat dipasarkan jauh sampai Surabaya, Pacitan, Madiun, Purwodadi dan Salatiga. Karena besarnya permintaan konsumen, maka dalam sehari kerja pabrik ini memperkerjakan karyawan dalam tiga shif kerja. Hanya karena kondisi keuangan perusahaaan yang terus merugi, membuat operasional Es Saripetojo terpaksa dihentikan.

Warga Solo yang masih peduli dengan bangunan warisan sejarah tentu saja menolak rencana pendirian mall di bekas lahan pabrik es Saripetojo. Namun sayang pabrik telah dirobohkan. Peralatan mesin pembuat es telah dilepas dari tempatnya menyusul tandon air sebagai bahan baku pembuat es yang telah dihancurkan lebih dulu sebagai akses alat berat masuk kawasan pabrik.

Jika Anda sempat datang ke kota Solo dengan menggunakan kereta api, begitu kereta melintas di stasiun kereta api Purwosari, Anda bisa melihat bekas bangunan pabrik es tersebut lewat jendela gerbong yang Anda naiki. Sayang bangunan pabrik es megah itu tinggal cerita saja. Yang ada tinggal kenangan bagi warga Solo bahwa di saat awal kemerdekaan republik ini, Solo pernah mempunyai pabrik es yang besar di jamannya.