Penyakit kardiovaskuler sering dipandang sebagai momok menakutkan karena sering dihubungkan dengan organ penting manusia yaitu jantung. Seolah tanpa gejala yang signifikan, penyakit kardiovaskuler dapat merenggut nyawa seseorang. Penyebabnya apa lagi kalau bukan penyakit jantung koroner ( PJK ) atau Coronary Disease ( CAD ). Pemicunya yang sering dihubungkan dengan penyakit ini antara lain, gaya hidup tidak sehat seperti ogah bergerak alias malas berolahraga dan pola makan yang kurang baik alias jorok.

Pada dasarnya penyakit ini disebabkan oleh aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga aliran darah yang lewat pun terganggu. Analogi pada kehidupan sehari-hari jika kita mempunyai pipa pralon yang menghubungkan antara mesin air ke kolam penampungan bak, ternyata di dalam pipa pralon itu terdapat kerak-kerak karena endapan air kotor yang menempel di dinding pipa pralon, akibatnya pasokan air bersih yang mengalir ke ke kolam akan terganggu karena sempitnya pembuluh pipa pralon yang menjadi salurannya.

Plak bisa terjadi karena kadar kolesterol yang tinggi dalam pembuluh darah yang menumpuk dan menimbulkan peradangan atau inflamasi. ” Inflamasi ini bisa menyebabkan terjadinya semacam borok. Ketika borok pecah, plak dalam pembuluh darah yang terlepas ( trombose ) ini dapat ikut mengalir dalam pembuluh darah. Dalam intensitas tinggi hal ini bisa menimbulkan penyumbatan dalam pembuluh darah, ” jelas dr. Fransisca D. Ambarwati, MGz, SpGK sebagaimana dilansir inspiratorial gaya hidup akhir pekan.

Olahraga sebagai sarana menuju hidup sehat yang harus dilakoni demi mengendalikan kolesterol tinggi penyebab pjk.

Menurut dr. Ambar, pembuluh darah yang rawan mengalami arterosklerosis dalah pembuluh darah di jantung dan otak. Akibatnya, selain PJK, seseorang bisa mengalami stroke. Proses terjadinya penyempitan pembuluh darah ini memakan waktu cukup lama bahkan bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas dapat dirasakan oleh orang itu. Sebelumnya PJK banyak dialami masyarakat berumur 60 tahun.

Namun seiring perjalanan waktu menuju era gaya hidup modern yang memudahkan segala hal, kini polanya sudah bergeser ke usia yang lebih muda, yaitu sekitar umur 40 tahun. Penyebabnya lagi-lagi pola makan kurang baik yang lebih mengutamakan tinggi kolesterol dan sejumlah gaya hidup yang kurang sehat lainnya. Lantas bagaimana mensiasati agar keluar dari masalah PJK ini?

Pola makanan sehat yaitu mulai membiasakan diri mengkonsumsi makanan rendah lemak tinggi serat seperti buah segar.

Dokter Ambar menuturkan sebaiknya mulai usia 25 tahun, mesyarakat mulai sadar akan kondisi kadar kolesterol dalam tubuhnya. Caranya dengan rajin melakukan check up sekitar 1 -2 tahun sekali. Bila dalam pemeriksaan terbukti kolesterol tinggi, sebaiknya seseorang segera mengubah pola hidupnya menjadi lebih sehat dan perlu melakukan diet. Pemeriksaan pun dianjurkan lebih rutin lagi.

Jadi jika anda telah memasuki usia seperempat abad, sebaiknya mulai memperhatikan gaya hidup sehat dan selalu mengecek kadar kolesterol dalam darahnya di laboratoriom. Tidak usah cemas bahkan stress jika hasil pemeriksaan menunjukkan Anda mengidap kolesterol tinggi. Justru dengan mengetahui sedini mungkin angka kolesterol dalam darah, Anda akan disarankan oleh tim medis untuk segera mengubah pola hidup tidak sehat menjadi sehat. Memang ada banyak cara menuju hidup sehat. Selain cara medis kedokteran barat ada pula cara medis kedokteran timur. Salah satunya meniru gaya hidup sehat alami ala Dr. Wu.