Masih dalam rangka perjalanan dinas ke wilayah Kedu selatan, sehat dengan reiki akhirnya tiba di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Perjalanan lalu dilanjutkan menuju Kecamatan Loano, Gebang, Kemiri dan Pituruh. Empat kecamatan ini sudah terkenal sejak dulu sebagai penghasil besek, yaitu wadah tradisional dari anyaman bambu untuk keperluan rumah tangga utamanya wadah untuk pelengkap upacara mengirim doa bagi arwah leluhur.

Apa sih sebenarnya keistimewaan wadah yang terbuat dari anyaman bambu di daerah ini? Orang pun tahu bahwa besek berupa anyaman bambu kini terancam punah karena tergeser oleh wadah dari plastik yang terlihat lebih praktis, awet dan harganya pun murah. Namun dalam pergeseran jaman yang modern ini keberadaan besek tetap ada dan tidak akan punah sekalipun alat rumah tangga berupa plastik sebagai wadah sudah masuk pedesaan.

Terutama saat masuk bulan Syaban, keberadaan besek akan dicari orang. Sebab….Bulan Syaban bagi Masyarakat Jawa biasa digunakan untuk mengirim doa bagi arwah leluhur dengan perlengkapan kenduri yang dilengkapi nasi beserta lauk pauk dalam wadah anyaman bambu yang disebut besek. Kendatipun sebagai alat pelengkap upacara kirim doa keberadaan besek sudah digantikan oleh wadah plastik yang praktis, para perajin di desa Kabupaten Purworejo tetap membuat besek. Mereka yakin bahwa besek akan tetap dibutuhkan dan tetap dibuat sekalipun jumlahnya semakin kurang.

Perajin besek sedang tekun menyelesaikan pesanan besek untuk wadah buah salak.

Dengan masuknya kebutuhan industri rumah tangga semisal wadah plastik tadi, para perajin besek di kabupaten ini mensikapi dengan tetap semangat terus membuat besek bila ada pesanan saja. Dengan membuat besek berarti kelangsungan usaha tetap berjalan. Umumnya pesanan besek kecil tetap ada sedang besek ukuran besar biasa dipesan pada saat musim buah salak tiba. Pada saat panen raya buah salak para petani salak akan memesan besek besar dalam jumlah banyak untuk keperluan wadah buah salak yang hendak dikirim ke pembeli.

Umumnya besek ukuran besar sebagai wadah buah salak dikirim ke pembeli di Bali, Sleman dan Purworejo sendiri. Sekalipun harga bambu kini sudah naik antara enam hingga tujuh ribu rupiah per batang dapat menghasilkan sepuluh tangkep besek dengan harga sekitar dua ribu hingga tiga ribu rupiah per tangkep.

Kerja sambilan bagi penduduk desa di saat menunggu panen tiba dengan membuat besek, rata-rata memberikan keuntungan 54 ribu rupiah dari sebatang bambu dengan waktu pembuatan besek selama dua hari. Besek sekalipun saat ini sudah masuk jaman komputer, keberadaannya akan tetap ada. Para perajin besek di daerah ini telah mewariskan kepandaian membuat besek kepada warga lainnya di desa ini.

Jadi bila Anda dan keluarga sedang membeli oleh-oleh khas Jogja dan melihat besek sebagai wadah oleh-oleh tadi, boleh jadi besek ini produksi dari desa-desa di Kabupaten Purworejo. Besek wadah tradisional dari bambu tetap aman untuk pembungkus makanan  dan tidak menimbulkan bahaya jika dibuang ke tempat sampah. Berbeda dengan pembungkus plastik atau styrofoam jika dibakar akan menimbulkan bau tidak sedap karena material ini mengandung unsur kimia.

Iklan