Tahun 1993 sehat dengan reiki dan kerabat kerja berkesempatan pergi Ke Lombok Nusa Tenggara Barat untuk membuat film dokumentasi Tradisi Nyale yaitu menangkap cacing laut diperairan laut dangkal di malam hari. Tradisi itu begitu lekat di masyarakat Lombok dan sudah dilakukan bertahun-tahun mengikuti tradisi leluhurnya. Dalam kesempatan liputan kami juga berkunjung ke Lombok Tengah tepatnya di Dusun Sade.

Ada apa ya dengan keunikan Dusun Sade ini? Dusun Sade sebagai lazimnya dusun-dusun di tanah air Indonesia mempunyai keunikan tradisi tersendiri yang sudah turun temurun diwariskan oleh pendahulunya. Di desa ini mengolah kotoran hewan menjadi biogas adalah hal biasa, namun bagaimana jika kotoran sapi atau kerbau di desa ini dimanfaatkan untuk mengepel lantai? Menjadi luar biasa dan unik bukan?

Kebiasaan turun temurun ini hanya bisa Anda temui di perkampungan Suku Sasak Dusun Sade Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat. Memasuki perkampungan Suku Sasak Di Dusun Sade Lombok Tengah Anda akan disuguhi pemandangan yang menawan dari bangunan tempat tinggal penduduk. Terlihat deretan rumah bernuansa tradisional berjejer rapi di perkampungan ini dan mengikuti kontur tanah yang menurun.

Masyarakat Sade masih mempertahankan arsitektur dan tata ruang dengan makna filosofis dan nilai estetika yang jelas turun temurun dilakukan penduduk dusun ini. Di desa ini rumah adat lazim disebut Bale Ratih atapnya terbuat dari alang-alang dan dinding dari bambu.

Selain itu ada kebiasaan unik yang hanya dimiliki masyarakat Dusun Sade yaitu tradisi bersih rumah khususnya mengepel lantai. Saya kira Anda pun sudah biasa membersihkan lantai rumah dengan bahan pewangi lantai dan menjadikan ubin mengkilap sepanjang hari. Namun tradisi membersihkan  ubin dan dinding rumah di desa ini cukup dibersihkan dengan bahan pembersih alami yang ada di desa ini. Apa itu bahan pembersihnya?

Mereka membersihkan rumah menggunakan kotoran sapi atau kerbau yang dicampur air. Lantai dan dinding rumah yang dibaluri kotoran sapi dipercaya dapat mengusir lalat dan menjadikan lantai mengkilap. Memang ketika kaki menginjak lantai, ubin terasa licin muncul rasa dingin menyentuh telapak kaki. Kaki pun tidak merasakan adanya buliran kesat layaknya serpihan pasir lembut.

Selain kotoran sapi dapat menyerap debu dan menjadikan lantai mengkilap, kotoran sapi dapat mendinginkan rumah pada musim kemarau serta menghangatkan rumah pada musim penghujan. Biasanya tradisi membersihkan lantai dan dinding rumah dilakukan oleh kaum perempuan yang sudah berkeluarga.

Setidaknya sebulan sekali mereka membersihkan lantai dengan kotoran sapi atau kerbau. Selain untuk mengepel lantai, kotoran sapi atau kerbau dipakai untuk bahan campuran membuat lantai rumah adat. Dengan adanya campuran sisa buangan kotoran hewan, lantai rumah menjadi kuat dan tidak mudah retak.

Karena kotoran kerbau atau sapi tidak bisa bersenyawa dengan tanah liat yang ada di dusun ini maka materi campuran ini berfungsi juga sebagai zat perekat. Lantai rumah juga tidak menjadi lembab. Inilah bentuk kearifan lokal yang terus bertahan di tengah perubahan zaman yang modern inji.

Kalau kampung sehat dengan reiki di Solo Jawa Tengah, kotoran sapi atau kerbau menjadi bahan campuran membuat bata merah. Kotoran sapi atau kerbau dicampur dengan tanah kebun lalu diaduk dengan air, baru adonan tanah campuran ini dicetak menjadi bata yang siap dikeringkan lebih dulu baru kemudian dibakar, hasilnya batu merah.

Bila Anda ingin menikmati pesona eksotisme sebuah pedesaan alami ala Dusun Sade ini, silakan berkunjung ke Mataram Nusa Tenggara Barat. Dari ibukota propinsi ini menuju desa Sade berjarak 70 kilometer atau sekitar 1 jam 30 menit berkendara mobil. Namun kalau Anda ingin santai menggunakan angkutan tradisional lainnya silakan jelajahi sudut-sudut perkotaan di propinsi ini dengan cidomo, semacam dokar tradisional yang hanya ada di Nusa Tenggara barat.

Foto : Estebano dan Tokyo Tanenhaus.