Tanda-tanda awal bencana terhadap situs kuno Pompeii di Italia terjadi ketika rumah gladiator runtuh pada bulan Nopember 2010. Rumah tersebut yang diketahui sebagai Scholai Armaturarium adalah tempat para gladiator di zaman Romawi kuno berlatih ketangkasan adu badan sambil menanti nasib mereka di gelanggang terbuka Pompeii.

Sejumlah pihak menyebut curah hujan yang sangat lebat yang menghunjam wilayah itu sebagai penyebab runtuhnya Rumah Gladiator. Namun tidak sedikit yang meyakini keruntuhan itu akibat kurangnya perhatian Pemerintah Italia terhadap warisan budaya terebut. Ketika tembok-tembok di situs kota kuno Pompeii mulai runtuh, terungkaplah krisis besar yang mengancam salah satu situs sejarah yang paling populer di dunia arkeologi tersebut.

Pompeii merupakan daerah yang makmur dan maju dibawah kekuasaan kekaisaran Romawi. Daerah pertaniannya subur,sekarang berada di wilayah Campania. Kota ini mempunyai permukaan tanah yang tidak datar berada di kaki gunung Vesuvius.

 

Presiden Italia Giorgiao Napolitano menggambarkan situasi di Pompeii sebagai hal yang sangat memalukan bagi Italia. Tim penyidik dari Unesco sebagaimana dilansir GeoWeek telah mengunjungi situs kuno tersebut yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia tahun 1997, untuk meneliti kerusakan yang ada. Mereka akan menyusun sejumlah usulan untuk melindungi situs sekaligus membantu otoritas Italia menyusun langkah-langkah terencana untuk restorasi.

Sore hari tanggal 24 Agustus 79, terjadilah letusan gunung Vesuvius. Ledakan itu merusakkan wilayah tersebut, mengubur Pompeii dan daerah-daerah pemukiman lainnya. Kebetulan tanggal itu bertepatan dengan Vulcanalia, perayaan dewa api Romawi.

Ketika Gunung Vesuvius yang terletak di dekat kota Pompeii meletus tahun 79 setelah Masehi, kota Pompeii beserta sekitar 20.000 penduduknya terkubur lava, batu dan abu. Kota tersebut terkubur sekitar 1500 tahun sampai kemudian arsitek Italia, Domenico Fontana menyingkap sedikit demi sedikit misteri situs kuta kuno tersebut yang hidup di zamannya.

Ekskavasi besar-besaran baru dimulai tahun 1700 an dan sejak itu Pompeii menjadi situs arkeologi yang penting di dunia. Informasi mengenai kehidupan sehari-hari masyarakat Romawi kuno mulai terungkap berkat reruntuhan Pompeii, yang telah membeku di bawah permukaan abu vulkanik selama 1500 tahun.

Ketika Pompei terkubur abu vulkanik Gunung Vesuvius tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, ini terlihat dari jasad – jasad mereka yang masih utuh membatu menunjukkan bahwa posisi jasad yang sedemikian alami tanpa menampakkan sebuah bahasa tubuh dan raut muka orang – orang yang sedang mengalami histeria masal, mendapatkan teror maut dan kebingungan.

Ditemukan fosil membatu penduduk Pompeii ketika terjadi letusan Gunung Vesuvius yang lalu mengubur kota ini selama ribuan tahun.

 

Diantaranya banyak ditemukan wajah mereka terlihat berseri-seri, sedang tertidur, duduk dengan posisi normal, dan sedang melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Bahkan ditemukan jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan.

Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih belia. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Namun secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab kemudian merenggut nyawa seketika itu.

Sumber : GeoWeek/yan-worlds.blogspot.com.