“Wah saya stress berat pagi tadi. Bagaimana tidak stress kalau kendaraan yang saya kendarai mogok di tengah jalan padahal saya harus sampai kantor di jam awal siaran.” Demikian keluh kesah sahabat sehat dengan reiki di kantor malam ini. Bagaimana tidak stress kalau yang berkendara seorang ibu rumah tangga yang hanya bisa menyetir kendaraan tapi tidak tahu apa-apa bila kendaraan ada gangguan mesin.

Untung dalam perjalanan ke kantor tadi pagi kendaraan segera bisa diatasi berkat bantuan seorang pengendara sepeda motor yang mengetahui kondisi mesin. Beliau dengan ringan tangan membantu membetulkan mobil yang mogok dan perjalanan ke kantor pun kembali lancar kendati tugas siaran telah usai. Dalam kondisi masih stress dan napas tersengal-sengal membuat penampilan wajahnya terlihat kucel alias lusuh. Begitulah adanya kalau sedang stress, makanan atau minuman  yang kita tawarkan akan ditolak.

Stress bagi sebagian orang adalah biasa tapi tidak demikian dengan orang lain. Stress adalah gangguan yang sangat fleksibel menyerang ke sembarang orang. Ia dapat menjadi penyebab gangguan fisik maupun emosional. Orang awam hanya mengenal stress sebagai penyakit yang menyerang mental. Pengaruh buruk stress terhadap kesehatan mental sangat merisaukan.

Dampak dari gangguan stress sendiri terhadap kesehatan fisik pun tidak dapat dianggap enteng. Coba lihat orang yang sakit maag itu. Penyebab sakit maag bisa dari gangguan mental sehingga untuk menyantap makanan saja rasanya perut ini sudah kenyang dan bila dipaksa makan maka perut akan merasa mual dan ingin rasanya muntah. Bahasa kerennya dari sakit maag ini adalah lambung menangis.

Mengadopsi istilah stress dari ilmu logam metalurgi yang intinya merujuk pada tekanan dengan kekuatan tertentu pada sebatang logam. Sampai suatu saat logam itu tidak mampu lagi bertahan akhirnya retak atau bahkan patah. Retaknya metal akibat tekanan kuat ini disebut stress.

Akhirnya istilah ini kemudian diadopsi manusia untuk menggambarkan bagaimana tekanan fisik dan mental menyerang manusia. Serangan sekaligus bersamaan waktunya pada diri seorang manusia itulah yang mengakibatkan rapuhnya jiwa sehingga gangguan fisik pun datang dalam bentuk penyakit mental.

Berbicara stress yang menimpa sahabat sehat dengan reiki di alinea awal prolog blog ini tentu saja stress pada manusia. Ia bisa saja menimpa ke sembarang orang tidak mengenal pangkat dan kedudukan. Pria atau wanita, anak kecil dan orang dewasa bahkan lanjut usia pun berpotensi memiliki stress.

Sebenarnya kita sebagai mahkluk sosial yang setiap hari beradaptasi dengan orang lain tetap memerlukan stress. Stress dalam skala tertentu misalnya stress ringan sangat dibutuhkan untuk memicu semangat beraktivitas. Serangan stress pada manusia dapat menimbulkan tekanan yang menimbulkan reaksi fisik maupun emosional.

Akibat dari stress ini membuat seseorang tidak dapat bertahan menghadapi berbagai tekanan hidup sehingga kondisi fisik dan mental orang itu menjadi rapuh yang lazim disebut distress. Penyebab stress alias stresor banyak jenisnya. Mulai dari bencana alam yang menimpa kawasan tertentu misalnya bencana gempa bumi seperti yang baru-baru ini melanda Sumatera Barat.

Juga bencana yang ditimbulkan karena ulah manusia yang di dalamnya termasuk perang saudara atau kecelakaan yang menimbulkan korban banyak seperti ledakan bom di Irak atau Pakistan. Kondisi demikian ini dapat memicu orang yang masih hidup dan tinggal di daerah konflik mengalami stress. Bahkan krisis moral, hukum, ekonomi yang melanda masyarakat dapat menjadi stresor.

Ada orang menjadi mudah stress karena merasa tidak ada lagi hukum yang pasti. Puncaknya dapat menimbulkan keributan, penjarahan atau kekacauan masyarakat yang berekor kerusuhan, pemerkosaan bahkan pembunuhan keji. Yang lebih parah lagi dampak stresor ini adalah penyakit mental. Tidak sedikit orang yang karena stress lantas menderita thanatofobia alias takut mati.

Pada orang yang menderita thanatofobia ini saking merasa ada ancaman terhadapnya membuat ia sampai mengalami kondisi panik hebat, jantung berdebar-debar dan akhirnya sesak napas. Penderita menganggap gangguan ini begitu mengkhawatirkan akhirnya ia buru-buru ke rumah sakit. Tentu saja setelah diperiksa tidak ditemukan gangguan fisik apa pun.

Maklum sebenarnya si penderita tidak sedang menderita sakit jantung atau paru-paru. Penyebab utama gangguan itu adalah ketakutan hebat yang menyebabkan ia merasa seolah-olah tengah mengidap sakit jantung atau paru-paru. Karena itu langkah bijaksana dalam menghadapi stress adalah menata pola hidup jiwa sehat agar gangguan semacam ini tidak datang dengan belajar olah jiwa dalam hidup keseharian.