Saya ingin berhenti merokok itulah komentar di salah satu artikel postingan lama sehat dengan reiki beberapa minggu lalu. Sayang pemberi komentar ini tidak menyebutkan alasannya kenapa ingin segera berhenti merokok. Barangkali keinginan berhenti merokok ini patut kita sambut dengan hati gembira mengingat dampak kesehatan seseorang akibat merokok sudah sering dibicarakan di forum kesehatan oleh para dokter ahli kesehatan paru dan jantung

Sekali lagi maaf beribu maaf kalau postingan blog ini sehat dengan reiki ingin memanasi seseorang agar segera berhenti merokok, tetapi ingin mengingatkan juga bahwa perokok pasif pun bisa terkena imbas dari perokok aktip jika sama-sama menghirup asap rokok. Apalagi kalau asap rokok itu berada di ruang publik ber-ac lalu bebas menyebar kemana-mana dan akhirnya terhirup oleh siapa saja yang ada di ruangan itu.

Karena itu keputusan melanjutkan merokok atau berhenti sama sekali dari merokok ada di tangan Anda sekarang juga. Kita pun sadar bahwa bahaya dan kerugian akibat merokok sangat besar bagi kesehatan paru dan jantung seseorang. Ikatan Kesehatan Masyarakat dan Komnas Pengendalian Tembakau memprediksi sebanyak 8 juta orang akan meninggal akibat rokok pada tahun 2030. Kecenderungan angka perokok aktip semakin meningkat dan yang memprihatinkan banyak perokok baru yang masih usia dini di bawah 10 tahun.

Anak kecil pun menikmati asap rokok. Kecenderungan angka perokok aktip semakin meningkat dan yang memprihatinkan banyak perokok baru yang masih usia dini di bawah 10 tahun.

Berita itu tentu saja mengejutkan kita semua. Yang sedikit menyenangkan ketika ada seseorang yang ingin berhenti merokok setelah yang bersangkutan terdeteksi penyakit TBC. Sebenarnya 70% perokok ingin berhenti merokok, namun hanya 5-10% yang benar-benar berhasil tanpa bantuan orang lain. Keberhasilan melawan untuk segera berhenti merokok karena faktor lingkungan dan penyuluhan Dinas Kesehatan yang memberi terapi berhenti merokok.

Tentu saja penyuluhan dini tentang bahaya merokok dari Dokter Penyakit Dalam sangat berperan akan keberhasilan menghambat laju perokok aktip. Seorang dokter kesehatan paru pernah berujar kepada sehat ala reiki ketika bersama teman-teman sekantor sedang melakukan general tes kesehatan di Pusat Kesehatan Olah Raga di Kawasan Senayan. Beliau…bapak dokter itu berujar bahwa makin dini usia merokok, berarti paparan asap rokok akan lebih panjang. Pengaruh negatif yang diterima juga lebih banyak dan bervariasi.

Dalam jangka pendek efek samping asap rokok mungkin hanya berupa iritasi atau bronkitis akut. Dalam jangka panjang bisa terjadi bronkitis kronik yang disebut PPOK kepanjangan dari istilah penyakit paru obstruksi kronik sampai kanker paru. Lantas kalau seseorang telah benar-benar berhenti merokok apakah bekas kuat dari pengaruh merokok pada organ pernapasan juga akan bersih dengan sendiri dari pengaruh asap rokok yang telah lama dia hisap dengan nikmatnya?

Terus terang Bapak Dokter yang sudah sepuh dan juga praktisi dari Ilmu Pernapasan ini enggan menceritakan dampak buruk dari dosa merokok. Tetapi ketika didesak dengan pertanyaan yang sedikit memancing, beliau berujar bahwa dosa lama dari merokok tidak bisa hilang. Artinya dampak merokok sudah membekas pada organ saluran pernapasan.

Terjadinya anatomis di bronkus dan cabang-cabangnya yaitu rusaknya sebagian besar sel-sel kelenjar (sel goblet) sudah berproliferasi memperbanyak diri sehingga produksi dahak berlebihan dan memudahkan infeksi. Akibat paparan asap rokok, sel-sel makrofag alveolar yang berfungsi menghancurkan kuman menjadi lemah.

Segi positip dari keinginan seseorang berhenti merokok lebih karena bujukan kawan, dukungan keluarga dan menanamkan pengetahuan tentang kesehatan organ pernapasan. Sekali lagi perlu penyuluhan yang terus menerus perlunya kita hidup sehat bebas dari asap polusi rokok. Faktor yang paling penting adalah faktor budaya atau nilai-nilai sosial.

Misalnya ketika ada larangan merokok di ruangan ber-ac atau katakanlah di bangsal rumah sakit, masih ada seseorang yang dengan bebasnya merokok, dengan sendirinya kita yang melihat akan kesal dan menganggap orang ini tidak punya etika sopan santun dan kurang berbudaya. Karena itu berhenti merokok butuh keinginan kuat dan merupakan suatu proses atau tahapan yang memerlukan waktu agar keinginan merokok berhenti sama sekali.

Dukungan dari orang lain yang telah berhasil dari berhenti merokok bisa membantu. Bila perlu dokter dapat memberikan farmakoterapi yaitu terapi obat untuk membantu. Dalam metode reiki dari berbagai tradisi pun dapat juga membantu memberikan terapi berhenti merokok.

Di lingkungan kantor sehat bersama reiki pun mayoritas pekerja laki-laki dimana sebagian besar mereka merokok. Bahkan ruangan tempat bekerja yang didesain bebas asap rokok pun sering kecolongan dengan adanya sisa bau asap rokok di pagi hari ketika ruangan ac ini dibuka. Pasalnya pekerja laki-laki yang lembur malam hari tanpa sungkan dan jengah pun sering mencuri waktu untuk merokok di ruangan ini.

Kalau sudah begitu apa boleh buat kita menjadi perokok pasif dalam arti sebenarnya. Kini korbannya tidak lagi memilih jender dan siapa saja bisa terkena polusi asap rokok. Terlebih lagi karyawan wanita pun sering menjadi korban menjadi perokok pasif, apalagi bila berada dalam satu ruangan yang mayoritas penghuninya merokok.

Perokok pasif sering berisiko terhadap berbagai gangguan kesehatan. Zat apa saja yang sebenarnya terkandung dalam asap rokok? Rokok mengeluarkan asap dalam bentuk main stream dan side stream. Main stream adalah asap rokok yang langsung dihisap oleh perokok.

Ini merupakan asap yang terjadi akibat pembakaran yang cukup sempurna sampai 900 derajat celcius. Side stream adalah asap yang timbul karena orang mengisap rokok. Asap ini terjadi karena pembakaran yang tidak sempurna sehingga kadar zat racun lebih banyak.

Perokok pasif akan mengisap side stream yang terbakar tidak sempurna ini. Melihat bahaya asap rokok maka anjuran berhenti merokok mulai sekarang sudah dikampanyekan lewat media massa. Hasilnya…..tergantung Anda….masih ingin terus merokok atau berhenti merokok sama sekali dan menggantinya dengan mengulum permen karet.

Sumber tulisan : Buletin Kesehatan dari berbagai sumber. ( disunting )