Meski pada musim panas ini tingkat kelumeran es di Samudra Arktik tidak separah tahun 2007, para peneliti yakin proses menipisnya selimut es di samudra itu terus berlanjut. Apabila situasi ini tetap berlangsung, para ahli Arktik memprediksi, pada akhir abad ini, Kutub Utara akan menjadi perairan terbuka.

Demikian GeoWeek mewartakan bahwa melumernya es di Samudra Arktik pada musim panas merupakan gejala normal. Namun sejak satelit mulai memantau tingkat pelumeran es tahun 1979, terlihat kecenderungan bahwa tahun-tahun belakangan ini pelumeran tersebut semakin meningkat.

Untuk menggambarkan gawatnya tingkat pelumeran es di Samudra Arktik, dua penjelajah Norwegia Thorleif Thorleifsson dan Borge Ousland, awal tahun ini mengarungi Samudra Arktik melalui dua jalur sekaligus. Akhir September lalu dua penjelajah ini, yang didampingi kru asal Rusia, menyelesaikan penjelajahan pertama yang pernah dilakukan melalui Jalur Barat Laut dan Jalur Laut Utara.

Para ilmuan asal Amerika memperkirakan jika pemanasan global tetap terjadi maka dalam tempo 5 tahun musim panas di Kutub utara bakal tidak ada es sama sekali.

Jumlah lapisan es yang telah mencari hingga saat ini seharusnya baru akan terjadi pada tahun 2050 mendatang.

Ketika sang legenda Ronald Amundsen pertama kali menjelajah Jalur Barat Laut pada awal tahun 19oo-an, ia membutuhkan waktu lebih dari tiga tahun untuk menjelajahinya karena tingkat ketebalan es yang ada saat itu. Ekspedisi Amundsen menggunakan kapal berlambung  baja seberat 47 ton. Sedangkan ekspedisi bulan lalu mengarungi Samudra Arktik dengan menggunakan kapal sepanjang 9,5 meter yang dibuat dari fiberglass dan dilengkapi dengan motor 10 PK.

Apa yang dilakukan penjelajah Norwegia ini menunjukkan bahwa perubahan iklim yang terus berlangsung berdampak besar terhadap kondisi lapisan es di Samudra Arktik. Lumernya lapisan es itu mengancam kehidupan di  sekitarnya, seperti pada beruang kutub dan anjing laut.

Sumber : GeoWeek.