Beberapa waktu lalu sehat dengan reiki kundalini bersama keluarga besar berkunjung ke Kampung Batik Laweyan Solo. Kunjungan ini sekaligus rekreasi libur panjang juga sekaligus menengok kampung halaman yang sudah 33 tahun ditinggalkan. Sudah banyak perubahan di kampung Batik Laweyan ini, namun ciri khas rumah batik milik Saudagar Batik masih tampak nyata dengan bangunan tembok tinggi mengelilingi bangunan utama yang dijadikan tempat tinggal dan usaha batik.

Di samping rumah utama berbentuk Pendopo (Joglo) terdapat pula bangunan Gandok yang juga dipakai untuk membatik yang dilakukan oleh Mbok-mbok yang sudah sepuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari yaitu membatik. Membatik merupakan pekerjaan turun-temurun yang sudah akrab dengan penduduk Laweyan di kota Solo. Nenek dan kakek almarhum dari pihak Bapak dan Ibu sehat dengan reiki pun semasa hayatnya juga berprofesi buruh batik. Dengan menjadi buruh batik inilah roda ekonomi keluarga diputar dan semua keturunannya tidak satupun menjadi buruh batik saat ini. Semuanya hidup merantau ke luar daerah Solo sebagai pendidik dan ada yang tinggal di Jakarta bekerja di sektor swasta dan pemerintahan.

Pada umumnya kegiatan membatik tulis dilakukan oleh ibu-ibu yang sudah sepuh. Memberi lilin dengan canting ke kain batik memerlukan ketelitian dan kesabaran.

Pulang kampung ke Solo berarti bernostalgia dengan usaha batik. Masih teringat di benak dengan kegiatan membatik dan menolet (menorehkan warna) pada kain batik dasar putih pada pola batik. Sebelum kain itu diberi paduan warna lain sehingga membentuk paduan warna serasi sebagaimana kita lihat di kain batik yang sudah jadi, batik sendiri dibuat oleh beberapa pekerja (buruh batik) secara berkelompok atau sendiri-sendiri. Di Kampung Batik Laweyan inilah saat ini dicanangkan sebagai Kampung Batik sebagai museum batik oleh Pemda Solo.

Tepatnya usaha batik ini ada di Kampung Klaseman, Lor Pasar, Kidul Pasar, Setono, Sayangan Wetan, Sayangan Kulon,Kwanggan dan Jagalan Bumi Laweyan..

Di Jalan Sidoluhur Laweyan yang membentang di ujung timur mulai dari Kampung Jagalan Bumi Laweyan ke arah barat menuju Kampung Kwanggan saat ini berdiri rumah batik, show room, bengkel usaha batik di mana turis asing dan domestik yang datang bisa melihat proses pembuatan batik. Bahkan kursus singkat selama 3 hari juga diadakan oleh pemilik usaha batik untuk pengunjung yang sekedar ingin belajar membuat batik. Turis asing dan domestik yang datang ke Solo bisa langsung berbelanja batik ke sentra industri Batik Laweyan di samping berbelanja di Pasar Klewer.

Batik merupakan hasil karya seni tradisional yang banyak ditekuni masyarakat Laweyan. Sejak abad ke-19 kampung ini sudah dikenal sebagai kampung batik. Itulah sebabnya kampung Laweyan pernah dikenal sebagai kampung juragan batik yang mencapai kejayaannya di era tahun 70-an. Salah satu sudut Jalan Sidoluhur depan Mesjid Makmur dengan pagar tinggi mengelilingi rumah saudagar batik.

Batik salah satu kain tradisi Indonesia belakangan terlihat semakin menjamur dikenakan orang di mana-mana, di pusat perkantoran, perbelanjaan hingga acara pesta. Banyak orang mengenakan batik dengan gaya modern dan kontemporer. Terlepas dari kenyataan bahwa menjamurnya pemakaian batik semula lebih dibangkitkan rasa nasionalisme yang muncul akibat kasus pengklaiman batik oleh Malaysia.

Namum demam pemakaian batik membawa dampak positif bagi industri garmen dan fashion di tanah air. Di sisi lain demam pemakaian batik juga sejalan dengan gerakan pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri. Sebenarnya gerakan penggunaan produk dalam negeri lebih didorong untuk menyiasati agar industri dan masyarakat Indonesia tidak terimbas oleh krisis keuangan global.

Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi rumah-rumah kuno Kampung Batik Laweyan ini sangat mengasyikkan. Kita seolah berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang batik tempo doeloe. Pola lorong-lorong sempit yang diapit tembok rumah gedongan yang tinggi semacam ini juga terdapat di kawasan Kampung Sayangan Kulon Laweyan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam berbagai kesempatan bahkan terus mendorong kalangan dunia usaha dan masyarakat untuk meningkatkan produksi, pemasaran dan penggunaan produk-produk unggulan dalam negeri. Sudah pasti tujuannya dalah untuk mendorong geliat ekonomi nasional dengan cara memperkuat pasar domestik. Tampaknya pemerintah cukup serius dalam upaya menggalakkan penggunaan produk dalam negeri ini.

Keseriusan itu tampak dari disiapkannya Inpres penggunaan produk dalam negeri yang diikuti dengan dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan (Mendag) nomor 44 Tahun 2008 tentang ketentuan impor produk tertentu. Tujuannya adalah mengantisipasi agar tidak terlalu banyak pelabuhan disalahgunakan untuk membantu membanjirnya produk impor yang mencari pasar baru dan bisa mengganggu produk nasional.

Tampaknya pelestarian batik tradisional sudah dimulai dari Kampung Batik Laweyan ini.Tempat lahir hidup sehat dengan reiki pun saat ini mendapat sebutan Kampung Batik Laweyan. Di kampung inilah batik dibuat, dipasarkan dan disebarluaskan melalui promosi baik dari mulut ke mulut, media massa dan kini sudah merambah ke internet. Di Jalan Sidoluhur Laweyan inilah usaha batik milik saudagar batik sudah memasang spanduk usaha di pintu masuk pendopo lengkap dengan alamat website dan alamat emailnya. Kalau sudah begini pengunjung internet diseluruh dunia tinggal klik saja alamat website ini dan transaksi online pun berlangsung.