Rekaman sebuah acara televisi bisa dilakukan dengan cara jumping shot/scene ataupun urut berdasarkan shooting sript. Dalam rekaman gambar model jumping shot yang perlu diperhatikan adalah akhir sebuah shot/scene posisi frame size gambar harus dicatat apakah LS, MS atau Cup. Kemudian awal shot/scene berikutnya juga ditandai apakah size gambar LS, MS atau Close Up.

Sedangkan rekaman gambar model urut linear dimungkinkan apabila dalam sebuah rekaman gambar dipergunakan triple atau empat bahkan lima kamera sekaligus yang bersama-sama dalam waktu bersamaan menyorot objek di mana antara kamera satu dengan lainnya format gambar (size) berbeda ukurannya. Beda ukuran gambar yang diambil juru kamera karena perintah Pengarah Acara ( Sutradara) dan melalui Pemadu Gambar kelima gambar yang tampil di monitor lalu di padukan menjadi satu gambar sebagai gambar yang on air (bila siaran langsung) atau recording (bila rekaman).

Model rekaman jumping shot biasanya dilakukan dengan single camera baik kamera film yang tanpa layar monitor atau kamera video (camcoder) yang memakai layar monitor sehingga seorang kameraman/girl tidak perlu menutup satu matanya dalam merekam gambar. Beda dengan kamera film yang tanpa layar monitor, semua format gambar yang direkam hanya diketahui juru kamera atas perintah Sutradara yang memerintahkan sebuah shot harus direkam dalam format tertentu apakah Close Up, LS atau MS.

Dengan mencatat sedetail mungkin format gambar dalam shooting script oleh Pencatat Adegan diharapkan pada saat editing nantinya tidak mengalami kesulitan dalam menyambung gambar yang dilakukan Editor Film/Video sehingga alur gambar akan mengalir dengan lancar seiiring dengan alur cerita film itu sendiri. Akan lebih baik rekaman gambar model jumping shot diperlukan story board tentang detail shot, lokasi, property dan ketika rekaman gambar belum dimulai Pengarah Acara sudah membuat bloking shot dilokasi shooting. Dengan menggambar story board ini ide yang ada dalam benak Sutradara/Pengarah Acara mudah divisualisasikan sehingga juru kamera mudah menterjemahkan script tulisan menjadi bahasa gambar.

Akan halnya rekaman gambar dengan multy camera di studio televisi, format gambar yang dihasilkan sudah merupakan pilihan akhir Pemadu Gambar atas perintah Sutradara/Pengarah Acara. Sebagai antisipasi diperlukan stok shot gambar dalam berbagai ukuran sehingga mudah bagi seorang editor video/film ketika sedang menyunting film nanti tidak akan mengalami kesulitan dalam menyambung gambar hanya karena miskinnya stok shot gambar karena pengambilan gambar yang jumping.

Rekaman gambar di studio dan merupakan paket jadi tanpa editing yang perlu diperhatikan adalah time code yang mengiringi gerakan gambar dalam posisi TC (time code) berupa gerakan angka-angka dalam posisi jam-menit-detik-frame. Sebelum rekaman dimulai seorang VTR man/girl harus membuat/merekam leader di awal pita kurang lebih sekitar 2 menit dengan back ground colour bar (lapisan gambar berbagai warna) dan input audio tune frekwensi 1 KHz.

Di dalam alat VTR Digital posisikan Time Code di Preset lalu masukkan pita kaset ke dalam VTR ini dan buat leader sepanjang 2 menit lebih beberapa detik. Untuk merekam colour bar ini tekan Hold lalu Reset. Tunggu beberapa detik lalu tekan Set diikuti Play dan Record sekaligus sehingga pita mulai merekam colour bar yang dimulai dari hitungan 00.00.00.01. Seiring bergeraknya detik berubah pula tulisan time code ini sehingga menjadi 00.02.10.00 (ini sekedar contoh saja) lalu pencet tombol Stop.

Cek hasil rekaman Leader ini apakah tune audio dan gambar colour bar terekam, lihat level audionya dan input video. Bila OK segera pindahkan tombol Preset kembali ke posisi Regend. Untuk merekam gambar segera pencet tombol Assemble. Jangan memencet tombol Insert karena kita akan merekam gambar dalam format siap jadi tanpa editing. Untuk black level, video gain, croma key ubah tombol ke posisi ke Preset dan kunci tombol Manual.

Pada saat kita memencet tombol Assemble tanda auto edit akan berkedip-kedip kuning dan segera set time code ke posisi 00.02.00.00 dengan memutar tombol Jodge sehingga posisi time code menunjukkan angka 00.02.00.00 lalu tekan tombol entry in bersamaan lalu pencet tombol Pree Roll sehingga pita dengan otomatis akan merewind ke posisi 00.01.55.00, tunggu aba-aba untuk merekam gambar berikutnya.

Setelah studio siap kita mulai rekaman gambar. Pengarah Acara menghitung count down mundur dari 10-9-8-7…s/d…3-2-1 dan pita start yang berarti kita mulai memencet tombol Auto Edit warna merah darah dan time code bergerak dari 00.01.55.00 ke 00.02.00.00 dan rekaman gambar dimulai. Apabila dalam rekaman gambar ini berjalan mulus tanpa retake dan pengisi acara ingin istirahat sebentar karena haus/capai rekaman gambar bisa dihentikan. Jangan lupa untuk mengecek hasil rekaman gambar yang baru dishoot.

Apabila hasil pengecekan OK dalam arti video dan audio terekam, segera tandai entry in (set in) baru dengan memencet tombol ini bersamaan, misal di menit ke 00.08.45.16 kita beri entry in baru yang berarti pada saat merekam gambar berikutnya hasil rekaman akan mulai bekerja di menit 00.08.45.16. Apabila kita lengah tidak segera memencet tombol entry in baru ( set dan in) lalu kita memencet tombol auto edit maka pita akan merewind ke posisi entry in awal di menit 00.02.00.00 dan akibatnya hasil rekaman yang baru saja direkam akan kehapus.

Ini berakibat fatal kawan, kenapa? ya karena kita kurang hati-hati dalam membaca time code dan tidak mengunci tombol cue in di akhir sebuah gambar yang telah direkam. Karena sebagai VTR man/girl perlu ketelitian dan paham sistem kerja dari alat VTR. Jangan tinggalkan VTR ini. Apabila ada pihak yang sengaja memencet tombol auto edit maka akan terhapuslah gambar yang telah direkam itu. Kalau begitu akan sia-sialah pekerjaan kita dan tumpuan kesalahan tentu saja akan ditimpakan kepada VTR man/girl.

Ini pernah terjadi ketika pengambilan gambar dalam sinetron Sengsara Membawa Nikmat di lokasi Ambarawa Jawa Tengah yang mengambil adegan kereta api uap kuno di mana ada adegan pemain berbincang dengan pemain lainnya di dalam kereta. Begitu break shooting dan kembali ke hotel, Pengarah Acara ingin mengecek adegan yang baru saja dishot. Betapa terkejutnya sang VTR man dan seluruh crew dan pemain yang terlibat menyaksikan rekaman gambar di dalam kereta api ternyata kosong ( blank) tidak ada gambar.

Nah, tebak saja akibatnya, “Dasar goblok, mengecewakan!”, begitu sumpah serapah crew lainnya kepada sang VTR man ini. Kalau sudah begini seorang VTR man/girl yang tidak kuat iman dan mentalnya pasti akan minta pensiun dini dari pekerjaan sebagai VTR man/girl. Oh apes… pelajaran dari Ambarawa itu sampai sekarang masih menyimpan misteri. Apakah kesalahan ada pada maintenance nya ketika menginstal alat VTR, ataukah VTR man nya yang tidak melakukan check and recheck dengan teliti. Benar-benar Sengsara Membawa Nikmat.