Tanggal 31 Desember 2010 tepat hari Jumat dan hari kemaren matahari begitu teriknya bersinar di Jakarta. Sekalipun cuaca sangat panas kegiatan masyarakat tampaknya sudah terlihat di pagi hari. Mereka begitu  sibuk dengan persiapan menjelang detik-detik pergantian tahun yang biasanya ditandai dengan kumpul-kumpul bersama keluarga, handai taulan, teman sekerja, bahkan dengan lingkungan sosial tempat tinggal kita menetap di malam hari tepat saat pergantian tahun bersama-sama tetangga.

Ada pula yang  aktip di komunitas dunia maya seperti forum blog, situs pertemanan facebook ataupun twitter saling silaturahmi dengan memberikan umpan balik komentar di halaman utama akun sepanjang hari menjelang dan sesudah pergantian tahun dengan ucapan Selamat Tahun Baru 2011 Semoga Sukses Dalam Hidup, SENANTIASA SEHAT. Intinya ini adalah kegiatan positip yang bertujuan mempererat tali silaturahmi yang di hari biasa barangkali jarang kita lakukan mengingat kesibukan kita masing-masing dalam pekerjaan.

Kegiatan di akhir tahun baik tahun Masehi atau Hijrah barangkali semua sahabat sehat dengan kundalini reiki sering mendengar istilah muhasabah. Suatu istilah yang biasa kita dengarkan di forum ceramah agama Islam yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Istilah untuk mawas diri atas segala apa yang telah kita perbuat selama ini khususnya dalam perjalanan selama setahun hidup kita, apakah ada nilai positip atau nilai negative dengan apa yang telah kita perbuat selama setahun ini. Namun sejujurnya muhasabah tidak harus direnungkan di akhir tahun tetapi harus pula direnungkan setiap bulan bahkan setiap hari bahkan setiap saat dalam hidup ini.

Sebagai umat beragama apa pun keyakinan yang kita anut sebaiknya mengevaluasi terhadap  diri masing-masing sudah sejauh mana telah melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sekiranya sudah melaksanakan, maka hendaknya ditingkatkan. Tetapi seandainya belum melaksanakan perintah serta meninggalkan larangan-Nya dan Rasul-Nya, maka harus kembali sadar (yaqdhah) kemudian bertaubat kepada Allah.

Menurut penuturan Ustads Amir Syukur Muhasabah hendaknya dilakukan secara umum maupun khusus. Yang umum tentang umur, harta, kesempatan dan waktu, apakah tiga hal itu secara maksimal sudah dipergunakan untuk beribadah kepada Allah dan pengabdian kepada orang lain serta masyarakat. Kita harus ingat akan sebuah hadits Nabi SAW, ”Raihlah lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni kaya sebelum miskin, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk, sehat sebelum sakit dan hidup sebelum mati.”

Berkaitan dengan lima perkara di atas salah satunya menjaga kesehatan baik jasmani dan rohani memang penting dilakukan oleh setiap orang apa pun profesinya. Kesehatan adalah milik semua orang dan memang dianugerahkan oleh Tuhan Pemilik Alam Semesta ini kepada umat-Nya. Dengan sehat tentunya anugerah yang pantas kita pertahankan setiap saat dan berbagai sarana menuju sehat pun banyak ditawarkan kepada setiap orang saat ini mulai yang berbayar atau pun gratis.

Apakah sehat dengan jalan menjaga pola makan, istirahat cukup, olah raga teratur dan lebih dari itu selalu berpikiran positip terhadap apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita masing-masing. Boleh juga kita menjaga kesehatan jasmani sesuai anjuran dokter kesehatan atau menjaga kesehatan alami  dengan memanfaatkan unsur tumbuh-tumbuhan yang ada di sekeliling kita sebagai tanaman obat atau disebut juga herbal. Lebih dari itu semua kesehatan alami tanpa obat-obatan kimia atapun tumbuh-tumbuhan yang telah digandrungi semua orang salah satunya memanfaatkan energi alam semesta untuk kesehatan jasmani dan rohani.

Untuk memantapkan muhasabah ini kita harus ingat bahwa hidup ini pasti akan berakhir untuk diri setiap orang. Maksudnya umur bertambah panjang artinya lebih dekat dengan kematian yang akan dialami oleh setiap orang. Mati sebagai jalan menemui Allah SWT. Karena itu untuk memantapkan muhasabah perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Muraqabah atau pengawasan lahiriah atau bathiniah semua perbuatan kita semua seperti sikap ikhlas untuk kesempurnaan amal kita.

2. Mu’aqabah (sanksi), yakni memberi sanksi kepada diri sendiri, tentu atas dasar manfaat, seperti meninggalkan amal kebaikan diberi sanksi melaksanakan ibadah yang lebih baik, sesuai dengan hadits nabi saw.: ”ikutilah kejelekan atau kejahatan dengan kebaikan, karena amal kebaikan itu bisa melebur dosa, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang bagus”. (HR. Tirmidzi).

3. Mu’atabah ala al-nafs (mengkritik pada diri sendiri), suatu kritikan yang sesuai dengan standard Alquran dan al-Hadits, seperti mempertanyakan mengapa kamu berbuat kemaksiatan begini dan begitu, mengapa kamu malas, mengapa kamu tidak jujur dan sebagainya. Sahabat sehat dengan kundalini reiki, mari kita mulai hari ini di awal tahun 2011 dengan muhasabah pada diri kita masing-masing. Insya Allah jika Anda bisa melakukan muhasabah, kemudian mengikutinya dengan langkah-langkah yang lain tersebut, kita akan bisa meningkatkan amal kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan sedikit demi sedikit. Wallahu a’lam bish shawab. (35).

Sumber : LPK2  ( Lembaga Pengembangan Ushuludin IAIN Walisongo ) d/a LPK  Jl. Boja Km 1, Ngalian Semarang, Telepon (024) 7601294.