Perayaaan Natal 2010 kemaren baru saja usai dan detik-detik menjelang pergantian tahun baru malam tinggal beberapa jam lagi ke depan. Nun jauh di sana di sebuah dusun Blabagan Kecamatan Mejayan Madiun, omset pengrajin terompet di desa ini meningkat tajam hingga 10 kali lipat dibandingkan hari biasa tanpa keriuhan menyambut tahun baru. Para pengrajin terompet juga mulai menaikkan harga terompet hingga 50 persen. Namun karena terbatasnya bahan baku dan tenaga memuat pengrajin terompet kewalahan memenuhi pesanan dari berbagai daerah khususnya Jawa Timur.

Berkah peningkatan omset penjualan terompet dirasakan keluarga Sarji. Usaha pembuatan terompet yang digelutinya sejak tahun 1980 kini banjir pesanan di saat perayaan Natal kemaren dan menjelang pergantian tahun baru malam ini. Rata-rata jumlah pesanan mencapai 400 hingga 500 buah perhari atau meningkat 10 kali lipat dibanding hari biasa yang hanya berjumlah 40 buah terompet. Berbagai terompet diantaranya jenis drumband, naga dan terompet ganda terjual ludes karena banyak peminat.

Sarji tengah menyelesaikan pesanan terompet tahun baru. Usaha pembuatan terompet ini telah ia lakoni sejak tahun 1980. Kini dengan dibantu oleh istri dan cucunya, usahanya terus berkembang.

Pak Sarji membuat terompet  dibantu istri dan cucunya menyatakan bahwa ia juga membuat berbagai pernak-pernik Natal dan Tahun Baru diantaranya topi dan mainan anak-anak. Harga terompet jenis ini juga naik hingga 50 persen tergantung model terompet. Rata-rata terompet dijual lima ribu rupiah perbuah. Terompet buatannya diambil oleh pedagang dari berbagai daerah diantaranya Madiun dan Nganjuk. Sampai pada perayaan Natal dan Tahun Baru jumlah terompet buatan Pak Sarji telah mencapai 10 ribu buah.

Sebaliknya terompet yang dijajakan pedagang di ruas jalan di Kabupaten Subang Jawa Barat tahun ini merosot tajam karena sepi pembeli. Para pedagang berharap Eforia Sepak Bola selama pekan terakhir bulan ini dapat mendongkrak penjualan terompet mereka. Hedi salah seorang penjual terompet musiman yang berasal dari Kabupaten Indramayu, menjual terompetnya di ruas jalan Otto Iskandardinata Kabupaten Subang.

Ada berwarna merah, kuning keemasan dan silver membalut terompet. Sang perajin menyebut terompet sebagai “ular naga.” Balutan kertas hologram kilat membuat terompet naga sangat memikat mata.

Sudah seminggu ini Hedi masih membuat terompet sambil menunggu pembeli datang ke kiosnya. Hedi mengakui tahun ini peminat terompet sepi dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya. Tahun ini dalam satu hari empat hingga lima terompet yang laku. Dengan penjualan terompet perbuah 5 ribu rupiah, ia hanya mendapatkan uang sekitar 30 ribu rupiah. Dibandingakan tahun lalu yang ramai pembeli, Hedi mampu meraup pendapatan sekitar 150 hingga 200 ribu rupiah per hari.

Terompet yang dijual Hedi mulai harga 3 ribu rupiah hingga 25 ribu rupiah per terompet. Selain Hedi para pedagang terompet lainnya berharap Euforia masyarakat pencinta bola AFF juga bisa mendatangkan keuntungan berjualan terompet.

Sumber berita : News Jawa Barat – Harry Rahmadani/ News Jawa Timur – Yoni Setyo Rahmawanto.