Pernahkan Anda berkunjung ke Malioboro Mall di Jogjakarta?  Sehat dengan reiki pun pernah ke sana ketika melakukan perjalanan dinas ke kota gudeg ini.  Terlihat betapa megah mall ini untuk ukuran kota Jogjakarta yang mencitrakan diri sebagai kota pelajar, budaya, pariwisata dan perdagangan. Dalam bayangan Anda tentu untuk membangun mall megah ini perlu arsitek mumpuni yang mampu mewujudkan impian menjadi kenyataan lewat visualisasi rancang bangun sebuah bangunan megah nan modern.

Begitu sampai di Jogja jangan buru-buru menyantap kuliner khas Jogya, sego gudeg krecek, tetapi hiruplah udara segar lebih dulu sambil membayangkan bagaimana Mall ini pada mulanya akan terbentuk? Tentu saja mall ini terwujud ketika rancangan awal ini masih merupakan konsep, lalu dijabarkan menjadi coretan yang oleh seorang arsitek lalu diwujudkan dalam gambar. Dengan perhitungan teknis yang njlimet akhirnya gambar rancang bangun bangunan mall ini terwujud di atas selembar kertas.

Nah dengan pekerjaan awal merancang gambar bangunan ini, pada dasarnya seorang arsitek telah melakukan visualisasi bagaimana mall ini nanti terwujud  dan berdiri megah sebagai pusat perbelanjaan modern di Kota Jogja. Visualisasi atau membayangkan adalah langkah awal untuk mewujudkan keinginan yang lalu dijabarkan dalam coretan kertas disertai perhitungan teknis dengan material apa saja bangunan ini nanti diwujudkan. Memang visualisasi telah biasa dikerjakan manusia sejak jaman dulu hingga jaman modern.

Ingat Jogja tentu akan membayangkan Tugu Jogja. Tugu Jogja merupakan landmark Kota Yogyakarta yang paling terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan Diponegoro.

Jadi apa yang ingin diciptakan manusia awal mulanya adalah visualisasi yang wujud nyatanya muncul dalam ujud gambar. Coba simak Leonardo da Vinci telah menggambar konsep model parasut sejak 500 tahun lalu. Pada masanya konsep parasutnya tidak bisa dibuktikan. Baru abad 20 konsepnya bisa dicoba dan terbukti benar.

Tentu pembaca blog sehat dengan reiki ini pun pernah mendengar Legenda Malin Kundang anak durhaka? Dalam legenda itu Sang Ibu yang sakit hati mengutuk anaknya menjadi batu. Kutukan sang ibu ini merupakan visualisasi kemurkaan luar biasa yang membuat Malin Kundang berubah menjadi batu.

Coba tengok kisah Sangkuriang di tanah Pasundan yang menendang perahu yang dibuatnya jatuh melayang.  Perahu jatuh dalam posisi tengkurap  di daerah perbukitan di utara Kota Bandung. Kejadian ini bermula gara-gara cinta  Sangkuriang ditolak oleh Dayang Sumbi yang sejatinya adalah Ibu kandungnya sendiri.  Sangkuriang meluapkan emosi negatifenya berupa kemarahan luar biasa sehingga perahu yang tengkurap berubah menjadi gunung Tangkubanperahu.

Walau kedua cerita tradisional ini cuma legenda, kisahnya menunjukkan adanya muatan visualisasi. Semuanya padat dengan visualisasi pada zamannya. Apalagi ditambah kesaktian Sang Tokoh Sangkuriang dan kemurkaan Ibu Malin Kundang, maka apa yang telah divisualisasikan menjadi kenyataan. Ah…itu cerita dulu. Dalam cerita keseharian, visualisasi sering kita gunakan tanpa sadar kebanyakan untuk hal yang negatif. Betul tidak? Hayo ngaku saja.

Sehat dengan reiki dan Anda pun tentu pernah tanpa sadar melarang anak kita agar jangan memanjat pohon atau pagar. “Awas jangan naik ke pohon tinggi nanti jatuh!” Atau berpikiran negatif ke diri sendiri manakala merasa cemas lalu dada berdegup kencang,” Duh dadaku sakit, jangan-jangan saya sakit jantung.” Nah secara tidak sadar dengan mengucapkan ” nanti jatuh…jangan-jangan sakit jantung ” sebenarnya secara tidak sadar kita memvisualisasikan segi negatif sesuatu yang tidak diinginkan bersama.

Setelah postingan lalu tentang afirmasi kali ini sehat dengan reiki membahas visualisasi dalam kaitannya penyaluran energi reiki kepada orang lain atau diri sendiri. Dalam pembelajaran Inti Reiki menyebutkan, visualisasi adalah salah satu teknik terpenting dalam belajar Inti Reiki. Memang dalam visualisasi ini kita harus membayangkan sesuatu dengan penuh kesungguhan namun dalam kondisi rileks. Apakah sesuatu itu?

Sesuatu adalah citra, hal, perihal, kejadian apa yang kita inginkan terjadi. Visualisasi dapat kita definisikan sebagai teknik internal dalam menggunakan imajinasi Anda untuk menciptakan (citra) apa yang Anda inginkan secara mental. Ingat pendulum dapat bergerak karena pikiran kita. Pikiran adalah energi yang menyebabkan pendulum bergerak berputar.

Pamela Oslie dalam Wujudkan Impian Anda yang dialih bahasakan Wawan Setiyawan menyatakan, Fisika Quantum menjelaskan bahwa kita sesungguhnya adalah medan kesadaran, energi dan informasi. Kita adalah kesadaran-kesadaran murni energi yang bergerak dan sesungguhnya bukanlah makhluk fisik.

Bila seorang pengamat memfokuskan perhatian pada medan energi ini akan ditemukan adanya partikel-partikel yang memancarkan energi. Secara harafiah menciptakan partikel cahaya atau sinar melalui proses penyerapan. Bukti kuat untuk menyimpulkan bahwa pikiran-pikiran kita tidak hanya mempengaruhi dunia fisik, namun benar-benar membentuk dunia fisik ini.

Bisa disimpulkan bahwa visualisasi merupakan teknik membentuk energi sesuai ciptaan/keinginan kita dan diperkuat dengan afirmasi. Energi apa pun dapat kita bentuk melalui visualisasi, misalnya kita ingin memvisualkan energi menjadi sebuah bola padat, tali, jembatan penghubung antara satu orang dengan orang lain yang dipisahkan jarak ribuan kilometer dalam transfer reiki jarak jauh, energi kesehatan, keceriaan dan kegembiraan dan sebagainya.

Visualisasi juga merupakan dasar dari materialisasi reiki dengan asumsi bahwa proses penciptaan selalu dimulai dalam bentuk pikiran yang dilanjutkan dengan perwujudan atau manifestasi materi. Namun visualisasi juga memerlukan power/kekuatan. Dalam Inti Reiki power ditingkatkan untuk mendukung visualisasi kita hingga terwujud sesuai dengan harapan kita.

Kali ini praktek visualisasi sederhana di mana setiap orang bisa melakukannya dengan mudah. Apa itu? Praktek visualisasi melihat aura sendiri dilakukan dengan cara di depan kaca. Lihat wajah Anda sebentar, posisi duduk sempurna, rileksasi lalu afirmasikan, ” Saya bisa melihat aura saya yang dominan saat ini.” Pelan-pelan mata terpejam, tahan sebentar kurang lebih 3-5 menit. Buka mata Anda, lihat wajah Anda fokuskan perhatian sekitar 5-7 cm di atas rambut/kepala Anda.

Mula-mula Anda akan melihat pendaran warna putih menyelingkupi kepala, lama kelamaan akan muncul warna dominan dari diri Anda. Bila mata tegang kedipkan mata sebentar, lalu perhatikan lagi ada warna apa? Nah warna dominan yang menyelingkupi wajah/kepala/leher ini merupakan warna aura Anda. Bila latihan ini sudah mahir diharapkan Anda dapat melihat warna aura orang lain tanpa bantuan cermin.

Ketika pertama kali sehat dengan reiki latihan melihat aura sendiri dalam Lokakarya Reiki di Hotel Indonesia, hanya melihat warna putih pelan-pelan berubah menjadi hijau muda. Nah warna hijau muda inilah warna aura pribadi sehat berkat reiki. Pertanyaan saya kepada Anda semua,” Sudahkah Anda belajar melihat aura pribadi?”

Selain itu pula, teknik visualisasi jika dijabarkan untuk mewujudkan keinginan melalui bola energi reiki ( inti reiki ) pun bisa dimaterialisasikan lewat latihan membuat bola energi padat. Sering-seringlah mempraktekkan materialisasi reiki dalam keseharian di sela-sela waktu luang Anda. Boleh jadi di samping kerja keras, menjalin relasi sosial kepada orang lain dengan banyak tersenyum dan rajin berdoa kepada – NYA, materialisasi reiki akan terwujud dalam perjalanan kehidupan Anda. Salam

Sumber : Inti Reiki Dr. Riko Rahardian (diedit seperlunya).

About these ads